The untold Story of Forgotten Hero, Tan Malaka
Kisah Tan Malaka
sosok Pahlawan sekaligus Bapak Republik Indonesia yang terlupakan
Mau tahu lagu indonesia raya yang diciptakan oleh WR Supratman terinspirasi darimana? salah satunya terinspirasi dari buku masa aksi karya Tan Malaka. (WR Supratman memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie karya Tan)
Mau Tahu siapa pencetus pertama kali konsep Republik untuk Indonesia lewat Naar de Republiek Indonesia yang kemudian menginspirasi Soekarno-Hatta, dkk? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa pejuang Indonesia yang paling banyak keliling dunia (lintas dunia)? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang berjuang dalam Pan-Islamisme dan pergerakan buruh kereta serta berjuang untuk minoritas sebelum merdeka? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang paling disegani Asia Hindia Belanda pada masa belum merdeka untuk Indonesia? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa sahabat paling dekat dengan Jendral Soedirman yang berpikiran sama menginginkan Indonesia merdeka 100% dan melawan penjajah tanpa kompromi? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang datang menemui bapaknya Gusdur, ketika itu gusdur masih sangat anak-anak, hingga Gusdur diberitahu ibunya, bahwa yang sering datang nemui bapakmu dulu? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang memberikan ide-ide pergerakan serta konsep dalam pemikiran yang visioner dan revolusioner untuk membentuk bangsa yang mana karyanya juga dibaca sekaligus menginspirasi Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang disebut Soekarno-Hatta bapak pendiri republik Indonesia untuk pertama kalinya? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang membuat karya buku dari penjara ke penjara yang konon kisahnya mirip kisah Nelson Mandela? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang menulis cadas tentang gerlya politik ekonomi yang ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian dalam konteks Nusantara? Dia adalah Tan Malaka.
Sangat lah banyak jika diuraikan, peneliti Harry A Poeze sampai menghabiskan berpuluh-puluh tahun hidupnya meneliti Tan Malaka hingga dijuluki detektif Tan Malaka.
Tan Malaka bukan saja berjuang di Indonesia tapi lintas dunia, hampir 20 tahun hidupnya mengembara bahkan juga diburu, dan penjara sudah menjadi makanannya. Baik dipenjara oleh kolonial Belanda, Jepang dan yang lainnya bahkan di Indonesia sendiri.
Dan bukankah ada kalimat “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”
Tapi itu tidak didapat oleh Datuk Ibrahim Tan Malaka, tak ada wajahnya di tembok-tembok sekolah, dibuku-buku pahlawan apalagi dimakamkan secara pahlawan. Dia dipenjara keluar lalu dipenjara lagi, diasingkan, lalu dibunuh, dilupakan, dibiaskan dan dikebiri historinya terutama di era orba (Soeharto).
Sementara Soekarno sudah menyatakan dia adalah bapak pendiri Republik Indonesia dan pahlawan besar, pasca runtuhnya dan meninggalnya Bung Karno, Tan Malaka yang juga merupakan tempat dia belajar, benar-benar ditenggelamkan, dan dicap komunis atheis, padahal Tan seorang yang pandai dan taat dalam beragama serta mampu menterjemahkan kitab dari lebih satu bahasa, mencintai anak-anak Indonesia hingga bergerlya juga mengajar dan menjadi seorang guru, memiliki jiwa seni, dan tidak mau kompromi dengan penjajah dan yang menjarah.
Tuduhan Tan seorang Komunis Atheis adalah tuduhan yang amat keliru. Pada usia 16 tahun, Tan Malaka sudah hafal Al Quran, dan mendapat beasiswa untuk belajar di sekolah guru Fort De Kock di Bukittinggi, tempat sekolah anak-anak priyai,
Dan jika membaca karya akbarnya “MADILOG” jelas sekali disana Tan bukanlah seorang atheis, dan bahkan dalam komintern dia membantah tesis Lenin tentang Pan-Islamisme di Moskow, dia sempat juga berguru dengan Tjokroaminoto, ketika dalam penyamaran Tan juga kerap memilih nama yang berciri islam. Dia lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang amat taat dalam beragama, bahkan juga berjuang dengan para santri. Tan Malaka fasih menggunakan sejumlah bahasa, baik bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Rusia, Fipilina, dan bahasa lainnya, hingga dia pun mampu menyamar dalam 20 lebih nama yang berbeda dalam pengembaraannya. Soekarno pun ketika ditemui Tan baik di bayah dan ditempat lainnya sempat menggunakan nama samaran, hingga Bung Karno kaget bahwa orang yang menjumpainya itu adalah Tan Malaka yang telah banyak menginspirasinya, yang juga menginspirasi Hatta, Sjahrir, dkk.
Tokoh besar yang terlupakan ini, seperti berjuang “sendirian” untuk memerdekakan Indonesia, dari bergerlya, mengajar, mengembara, menulis buku, mengorganisir massa, berbicara dalam kongres internasional, ikut juga memperjuangkan negara lain yang dijajah, ikut bertempur di lapangan melawan kolonial secara langsung, sampai akhirnya harus diasingkan, keluar-masuk penjara berkali-kali, bahkan diburu oleh negara imperial.
Tragis dan ironis, perjuangan beliau untuk negeri kita ini malah berakhir dengan timah panas oleh bangsa sendiri. Kendati Presiden Soekarno telah mengangkat namanya sebagai pahlawan nasional pada 28 Maret 1963. Namun, sejak era Orde Baru (1966-1998) sampai saat ini Tan sengaja dilupakan bahkan karya-karya akbarnya yang tak sedikit menjadi inspirasi para pejuang lainnya dibiaskan.
Namun seperti kata Tan, “Suaraku lebih keras dari dalam kubur”. Pernyataan itu kini terbukti, namanya tetap hidup dan selalu bangkit menyala, bahkan kini ramai para pemuda yang ingin mengenalnya, membaca karya-karyanya, nama dan wajahnya kini banyak bermunculan di tembok-tembok gravity, dikaos baju, aksesoris, bahkan dirinya dipentaskan dalam teater, dipuisikan, dan sebagainya, yang menunjukkan bahwa spirit Tan selalu menyala, semoga gelar pahlawan segera diberikan untuknya.
Hidup Tan (Bapak Republik Indonesia) selalu dekat dengan penjara, karena dia tak mau kompromi dengan penjajah. Bahkan ketika mati pun, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara oleh era rezim orba yang terkutuk.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda”
“Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang telah menjarah rumahnya” (Tan)
(Menolak lupa)
sosok Pahlawan sekaligus Bapak Republik Indonesia yang terlupakan
Mau tahu lagu indonesia raya yang diciptakan oleh WR Supratman terinspirasi darimana? salah satunya terinspirasi dari buku masa aksi karya Tan Malaka. (WR Supratman memasukkan kalimat “Indonesia tanah tumpah darahku” ke dalam lagu Indonesia Raya setelah diilhami bagian akhir dari Massa Actie karya Tan)
Mau Tahu siapa pencetus pertama kali konsep Republik untuk Indonesia lewat Naar de Republiek Indonesia yang kemudian menginspirasi Soekarno-Hatta, dkk? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa pejuang Indonesia yang paling banyak keliling dunia (lintas dunia)? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang berjuang dalam Pan-Islamisme dan pergerakan buruh kereta serta berjuang untuk minoritas sebelum merdeka? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang paling disegani Asia Hindia Belanda pada masa belum merdeka untuk Indonesia? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa sahabat paling dekat dengan Jendral Soedirman yang berpikiran sama menginginkan Indonesia merdeka 100% dan melawan penjajah tanpa kompromi? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang datang menemui bapaknya Gusdur, ketika itu gusdur masih sangat anak-anak, hingga Gusdur diberitahu ibunya, bahwa yang sering datang nemui bapakmu dulu? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang memberikan ide-ide pergerakan serta konsep dalam pemikiran yang visioner dan revolusioner untuk membentuk bangsa yang mana karyanya juga dibaca sekaligus menginspirasi Soekarno dan tokoh-tokoh lainnya? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang disebut Soekarno-Hatta bapak pendiri republik Indonesia untuk pertama kalinya? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang membuat karya buku dari penjara ke penjara yang konon kisahnya mirip kisah Nelson Mandela? Dia adalah Tan Malaka.
Mau tahu siapa yang menulis cadas tentang gerlya politik ekonomi yang ditemukan benang putih keilmiahan dan ke-Indonesia-an serta benang merah kemandirian dalam konteks Nusantara? Dia adalah Tan Malaka.
Sangat lah banyak jika diuraikan, peneliti Harry A Poeze sampai menghabiskan berpuluh-puluh tahun hidupnya meneliti Tan Malaka hingga dijuluki detektif Tan Malaka.
Tan Malaka bukan saja berjuang di Indonesia tapi lintas dunia, hampir 20 tahun hidupnya mengembara bahkan juga diburu, dan penjara sudah menjadi makanannya. Baik dipenjara oleh kolonial Belanda, Jepang dan yang lainnya bahkan di Indonesia sendiri.
Dan bukankah ada kalimat “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan”
Tapi itu tidak didapat oleh Datuk Ibrahim Tan Malaka, tak ada wajahnya di tembok-tembok sekolah, dibuku-buku pahlawan apalagi dimakamkan secara pahlawan. Dia dipenjara keluar lalu dipenjara lagi, diasingkan, lalu dibunuh, dilupakan, dibiaskan dan dikebiri historinya terutama di era orba (Soeharto).
Sementara Soekarno sudah menyatakan dia adalah bapak pendiri Republik Indonesia dan pahlawan besar, pasca runtuhnya dan meninggalnya Bung Karno, Tan Malaka yang juga merupakan tempat dia belajar, benar-benar ditenggelamkan, dan dicap komunis atheis, padahal Tan seorang yang pandai dan taat dalam beragama serta mampu menterjemahkan kitab dari lebih satu bahasa, mencintai anak-anak Indonesia hingga bergerlya juga mengajar dan menjadi seorang guru, memiliki jiwa seni, dan tidak mau kompromi dengan penjajah dan yang menjarah.
Tuduhan Tan seorang Komunis Atheis adalah tuduhan yang amat keliru. Pada usia 16 tahun, Tan Malaka sudah hafal Al Quran, dan mendapat beasiswa untuk belajar di sekolah guru Fort De Kock di Bukittinggi, tempat sekolah anak-anak priyai,
Dan jika membaca karya akbarnya “MADILOG” jelas sekali disana Tan bukanlah seorang atheis, dan bahkan dalam komintern dia membantah tesis Lenin tentang Pan-Islamisme di Moskow, dia sempat juga berguru dengan Tjokroaminoto, ketika dalam penyamaran Tan juga kerap memilih nama yang berciri islam. Dia lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang amat taat dalam beragama, bahkan juga berjuang dengan para santri. Tan Malaka fasih menggunakan sejumlah bahasa, baik bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Rusia, Fipilina, dan bahasa lainnya, hingga dia pun mampu menyamar dalam 20 lebih nama yang berbeda dalam pengembaraannya. Soekarno pun ketika ditemui Tan baik di bayah dan ditempat lainnya sempat menggunakan nama samaran, hingga Bung Karno kaget bahwa orang yang menjumpainya itu adalah Tan Malaka yang telah banyak menginspirasinya, yang juga menginspirasi Hatta, Sjahrir, dkk.
Tokoh besar yang terlupakan ini, seperti berjuang “sendirian” untuk memerdekakan Indonesia, dari bergerlya, mengajar, mengembara, menulis buku, mengorganisir massa, berbicara dalam kongres internasional, ikut juga memperjuangkan negara lain yang dijajah, ikut bertempur di lapangan melawan kolonial secara langsung, sampai akhirnya harus diasingkan, keluar-masuk penjara berkali-kali, bahkan diburu oleh negara imperial.
Tragis dan ironis, perjuangan beliau untuk negeri kita ini malah berakhir dengan timah panas oleh bangsa sendiri. Kendati Presiden Soekarno telah mengangkat namanya sebagai pahlawan nasional pada 28 Maret 1963. Namun, sejak era Orde Baru (1966-1998) sampai saat ini Tan sengaja dilupakan bahkan karya-karya akbarnya yang tak sedikit menjadi inspirasi para pejuang lainnya dibiaskan.
Namun seperti kata Tan, “Suaraku lebih keras dari dalam kubur”. Pernyataan itu kini terbukti, namanya tetap hidup dan selalu bangkit menyala, bahkan kini ramai para pemuda yang ingin mengenalnya, membaca karya-karyanya, nama dan wajahnya kini banyak bermunculan di tembok-tembok gravity, dikaos baju, aksesoris, bahkan dirinya dipentaskan dalam teater, dipuisikan, dan sebagainya, yang menunjukkan bahwa spirit Tan selalu menyala, semoga gelar pahlawan segera diberikan untuknya.
Hidup Tan (Bapak Republik Indonesia) selalu dekat dengan penjara, karena dia tak mau kompromi dengan penjajah. Bahkan ketika mati pun, Tan Malaka harus menjadi nama yang terpenjara oleh era rezim orba yang terkutuk.
“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki pemuda”
“Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang telah menjarah rumahnya” (Tan)
(Menolak lupa)
Komentar
Posting Komentar