Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2018

Sosbud: Relevansi budaya (lama) ditengah Masyarakat modern

Quotes "berawal dari sebuah cerita. lalu menjadi kisah. kisah menjadi legenda. legenda menjadi mitos". dari quotes diatas, bisa kita pahami bahwa mitos adalah suatu hal yg saat ini menjadi tabu di masyarakat. sebagian masyarakat masih mempercayainya, sebagian lagi tidak. di era modern ini, kebanyakan manusia diperbudak ilmu pengetahuan. hingga pada tatanan rasional dan logika. artinya, quotes diatas takkan dipercaya selagi tidak masuk akal secara logika, dan tidak bisa dinalar dengan perspektif ilmu pengetahuan. seperti contoh, "menyapu di malam hari di dalam rumah, bisa menyebabkan si penghuni rumah akan kesulitan dalam mencari rizqi" . dari contoh tersebut jika dinalar dg perspektif ilmu pengetahuan tak ada hubungannya. apalagi secara logika. contoh mitos tersebut hanya bisa di percaya dan diyakini, karena kepercayaan tersebut telah secara turun temurun dipegang teguh oleh masyarakat pada umumnya. sekalipun dg bukti konkrit yg belum ada atau mungkin belum ...

Hikmah Sholawat

18 November 2018. baru saja saya mengikuti acara maulid Nabi Muhammad SAW yg sangat meriah. dimana hidangan dan suguhan selalu identik dg buah-buahan yg segar. tak lupa ada bingkisan yg dibawa oleh masing-masing hadirin dimana pada sebelumnya para hadirin membawa masing-masing bingkisan lalu dikumpulkan ditengah jamaah acara maulid. setelah acara selesai para hadirin akan membawa lagi bingkisan tersebut dg catatan bukan bingkisan miliknya lagi. istilahnya tukeran. hehe. tp kalo misalnya ada tetangga atau sanak keluarga mengadakan hajatan di bulan maulid, maka para undangan cukup datang saja. kembali ke acara maulid diatas, tak lupa turut hadir pula Kiai alim sebagai pimpinan acara. kebetulan saya tinggal di kawasan pondok pesantren, maka tak begitu sulit mengundang para Ulama dan Masyayikh saat ingin mengadakan hajatan semacam tahlilan, walimahan, dan maulidan. sebagai Pimpinan acara maulidan tentu Kiai akan dengan senang hati memberi tausiyah atau siraman rohani yg diambil dari kis...

KH. Hasan Abdul Wafi (Pengarang Shalawat Nahdliyah)

Gambar
KH. Hasan Abdul Wafi Tahun 1923, di Desa Sumber Anyar Kecamatan Tlanakan Pamekasan, Lora Abdul Wafi dilahirkan. Beliau merupakan putera bungsu dari tujuh bersaudara, dari pasangan Kiai Miftahul Arifin dan Ny Latifah. Keenam saudara beliau adalah, KH. Ahmad Sayuti, Ny Hj. Atiyah, KH. Zainullah, KH. Masduqi, KH. Syarqowi dan KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin. Sejak usianya masih kecil, Lora Abdul Wafi telah mendapatkan pendidikan agama langsung dari ayahandanya, KH. Miftahul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren An-Nuriyah, Pamekasan. Ilmu agama yang diajarkan di antaranya adalah, membaca Al-Qur’an, Fiqh dan lainnya. Sekira tahun 1938, ketika usia Lora Abdul Wafi masih 6 tahun, beliau harus rela kehilangan ibunda tercintanya untuk selama-lamanya. Seolah tak habis dirundung duka, lima tahun kemudian, ayahandanya tercinta wafat. Meski demikian, kepergian kedua orangtua yang sekaligus gurunya tersebut, tidak menjadikan Lora Abdul Wafi tenggelam dalam lautan duka terus-menerus. Lora ...

Teladan KH. Hasyim Zaini

Gambar
KH. Hasyim Zaini KH. Hasyim Zaini, merupakan putera pertama dari Almarhum KH. Zaini Mun’im. Beliau mendapatkan pendidikan untuk pertama kalinya, langsung dari ayahandanya tercinta. Sebagai putera, beliau sangat patuh dan tawadu’ terhadap kedua orang tuanya. Sementara sebagai santri/murid, selain memiliki kecerdasan dan tingkat intelegensia yang tinggi, beliau juga sangat tekun me-muthala’ah tiap materi pelajaran dan cukup telaten (kreatif). Ketelatenan ini terlihat dari catatan pinggir di seluruh kitab-kitab beliau tentang keterangan atau petuah guru-gurunya (termasuk dari ayahandanya). Mengenai ketelatenan ini, beliau pernah berkata, “man kutiba karra wa man sumi’a farro” (barang yang ditulis akan kekal, tapi jika hanya didengar akan hilang). Menginjak usia dewasa, beliau kemudian melanjutkan proses pendidikannya ke Pondok Pesantren Peterongan Jombang, yang kala itu diasuh oleh KH. Musta’in Ramli. Sebelum berangkat mondok, ayahandanya berpesan kepada beliau bahwa da...

KH. Zaini Abdul Mun'im

Gambar
KH. Zaini Abdul Mun'im ( Pendiri dan Pengasuh Pertama Ponpes Nurul Jadid ) Ulama Pejuang dan Perintis Pertanian Tembakau Nama Probolinggo telah ada sejak tahun 1359 M. (1281 Saka). Ketika Prabu Hayam Wuruk berhasil mempersatukan Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit tahun 1357 M (1279 Saka) atas jerih payah Maha Patih Mada, rombongan pembesar kerajaan kemudian bermuhibah ke daerah ini dan enggan kembali. Sehingga ketika sang prabu sedang linggih (duduk) merenugi keindahan kawasan ini, maka kawasan ini dinamakan oleh masyarakat sebagai Prabu Linggih. Setelah mengalami proses perubahan ucapan, kata Prabu Linggih kemudian berubah menjadi Probo Linggo (Probolinggo).  Daerah ini merupakan salah satu bagian dari Propinsi Jawa Timur yang terletak di kaki Gunung Semeru, Gunung Argopuro dan Pegunungan Tengger dengan luas sekitar 1.696,166 Km persegi. Paiton adalah adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur yang terkenal dengan kehadiran komple...

Kisah teladan Pribadi KH. Abdul Hamid Pasuruan

Gambar
KH. Abdul Hamid Pasuruan Suatu ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid. Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang. Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat. Setiap pergi ke manapun Kyai Hamid selalu didatangi oleh umat, yang berduyun duyun meminta doa padanya. Bahkan ketika naik haji ke mekkah pun banyak orang tak dikenal dari berbagai bangsa yang datang dan berebut mencium tangannya. darimana orang tau tentang derajat Kyai Hamid? Mengapa orang selalu datang memuliakannya? Konon inilah keistimewaan beliau, beliau derajatnya ditinggikan oleh Allah SWT. Pada suatu saat orde...

KH. Ridwan Abdullah Sang Pencipta Lambang NU

Gambar
Sang Pencipta Lambang Nahdhatul Ulama yang elegan itu adalah anak sulung dari enam bersaudara dari pasangan  Kyai Abdullah  dan  Nyai Marfu’ah , lahir di kampung Carikan Gang I, Praban, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884. Pendidikan dasarnya diperoleh di sekolah Belanda. Agaknya di situlah, dia mendapatkan pengetahuan teknik dasar menggambar dan melukis. Dia tergolong murid yang pintar, sehingga ada orang Belanda yang ingin mengadopsinya. Belum selesai sekolah di situ, orangtuanya kemudian mengirimnya ke Pesantren Buntet di Cirebon. Ayah Kyai Ridhwan, Abdullah, memang berasal dari Cirebon, Ridwan adalah anak bungsu. Setelah lulus dari sekolah setingkat Sekolah Dasar, beliau mondok di sejumlah pesantren, di antara salah satunya adalah di pesantren Syeikh Kholil Bangkalan. Beliau ikut  ndalem  Syeikh Kholil, membantu urusan rumah tangga Syeikh Kholil, seperti bersih-bersih rumah, mencuci pakaian dan mengasuh putera Sye...