Hikmah Sholawat
18 November 2018.
baru saja saya mengikuti acara maulid Nabi Muhammad SAW yg sangat meriah. dimana hidangan dan suguhan selalu identik dg buah-buahan yg segar. tak lupa ada bingkisan yg dibawa oleh masing-masing hadirin dimana pada sebelumnya para hadirin membawa masing-masing bingkisan lalu dikumpulkan ditengah jamaah acara maulid. setelah acara selesai para hadirin akan membawa lagi bingkisan tersebut dg catatan bukan bingkisan miliknya lagi. istilahnya tukeran. hehe. tp kalo misalnya ada tetangga atau sanak keluarga mengadakan hajatan di bulan maulid, maka para undangan cukup datang saja.
kembali ke acara maulid diatas, tak lupa turut hadir pula Kiai alim sebagai pimpinan acara. kebetulan saya tinggal di kawasan pondok pesantren, maka tak begitu sulit mengundang para Ulama dan Masyayikh saat ingin mengadakan hajatan semacam tahlilan, walimahan, dan maulidan. sebagai Pimpinan acara maulidan tentu Kiai akan dengan senang hati memberi tausiyah atau siraman rohani yg diambil dari kisah-kisah kanjeng Nabi Muhammad SAW. seperti, kisah berikut.
suatu ketika Kanjeng Nabi pernah bersabda dihadapan para Sahabatnya. "Ya Allah kenapa denganku ini? kenapa aku begitu merindukan Saudaraku?" sabda Kanjeng Nabi. lalu salah seorang sahabat bertanya, "kenapa Engkau masih merindukan kami ya Rosulullah? bukankah setiap hari kita selalu bertemu?". kemudian Rosulullah menjawab, "kalian bukanlah saudaraku, tapi kalian adalah Sahabatku. Saudaraku adalah mereka yg selalu bersholawat padaku dan iman kepadaku, tp mereka tidak pernah bertemu denganku". jawab Rosulullah SAW.
pada kisah ini yg saya tangkap adalah, orang-orang yg tidak pernah bertemu dg Kanjeng Nabi Muhammad SAW tapi selalu bersholawat dan iman kepadanya, adalah kita. tentu sebagai umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW kita harus senantiasa bersholawat padanya. karena beliaulah satu2nya Nabi dan Rasul yg bisa memberi syafaat pada umatnya.
kemudian kisah yg kedua adalah, kisah dari Sufyan Ats-tsauri atau dg nama lain Abu Abdillah Ats-tsauri. pernah suatu ketika Sufyan Ats-tsauri pergi haji. "Manakala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seorang anak muda yang tak berdoa apapun selain hanya bershalawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka’bah, di Padang Arafah, di mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanayalah shalawat kepada Baginda Nabi SAW." Saat kesempatan yang tepat datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati, “Sahabatku, ada doa khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu.” Namun, dia berkata, “Aku tahu semuanya. Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti tindakanku yang aneh ini.” “Aku berasal dari Khurasan. Ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia. Dan aku mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT. Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai. Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain. Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur. Lalu, pintu tenda kami terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Alangkah tampak sedih engkau! Ada apakah gerangan?” Aku pun berkata, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita. Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.” Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah Anda, wahai kekasih kebaikan?” Dia menjawab, “Aku Muhammad al Musthafa” (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya). Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kakinya, menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.” Kemudian dengan lembut beliau Saw berkata, “Ayahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, wajah tukang riba berubah menjadi wajah keledai, tetapi disini Allah Yang Maha Agung mengubah lagi wajah ayahmu. Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik. Setiap malam sebelum tidur, dia melafalkan shalawat seratus kali untukku. Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafaat karena shalawatnya kepadaku. Setelah diizinkan, aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.” Sufyan menuturkan, “Anak muda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak berdoa selain shalawat kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya Shalawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.” Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku. Jibril As. berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.” Berkata pula Mikail As., “Mereka yang bershalawat atasmu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.” Dan Israfil As. berkata pula, “Mereka yang bershalawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT mengampuni orang itu.” Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, ”Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.” Bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW? Sementara para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bershalawat atas Rasulullah SAW.
semoga kita akan selalu senantiasa bersholawat dg memuliakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. amin
baru saja saya mengikuti acara maulid Nabi Muhammad SAW yg sangat meriah. dimana hidangan dan suguhan selalu identik dg buah-buahan yg segar. tak lupa ada bingkisan yg dibawa oleh masing-masing hadirin dimana pada sebelumnya para hadirin membawa masing-masing bingkisan lalu dikumpulkan ditengah jamaah acara maulid. setelah acara selesai para hadirin akan membawa lagi bingkisan tersebut dg catatan bukan bingkisan miliknya lagi. istilahnya tukeran. hehe. tp kalo misalnya ada tetangga atau sanak keluarga mengadakan hajatan di bulan maulid, maka para undangan cukup datang saja.
kembali ke acara maulid diatas, tak lupa turut hadir pula Kiai alim sebagai pimpinan acara. kebetulan saya tinggal di kawasan pondok pesantren, maka tak begitu sulit mengundang para Ulama dan Masyayikh saat ingin mengadakan hajatan semacam tahlilan, walimahan, dan maulidan. sebagai Pimpinan acara maulidan tentu Kiai akan dengan senang hati memberi tausiyah atau siraman rohani yg diambil dari kisah-kisah kanjeng Nabi Muhammad SAW. seperti, kisah berikut.
suatu ketika Kanjeng Nabi pernah bersabda dihadapan para Sahabatnya. "Ya Allah kenapa denganku ini? kenapa aku begitu merindukan Saudaraku?" sabda Kanjeng Nabi. lalu salah seorang sahabat bertanya, "kenapa Engkau masih merindukan kami ya Rosulullah? bukankah setiap hari kita selalu bertemu?". kemudian Rosulullah menjawab, "kalian bukanlah saudaraku, tapi kalian adalah Sahabatku. Saudaraku adalah mereka yg selalu bersholawat padaku dan iman kepadaku, tp mereka tidak pernah bertemu denganku". jawab Rosulullah SAW.
pada kisah ini yg saya tangkap adalah, orang-orang yg tidak pernah bertemu dg Kanjeng Nabi Muhammad SAW tapi selalu bersholawat dan iman kepadanya, adalah kita. tentu sebagai umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW kita harus senantiasa bersholawat padanya. karena beliaulah satu2nya Nabi dan Rasul yg bisa memberi syafaat pada umatnya.
kemudian kisah yg kedua adalah, kisah dari Sufyan Ats-tsauri atau dg nama lain Abu Abdillah Ats-tsauri. pernah suatu ketika Sufyan Ats-tsauri pergi haji. "Manakala Tawaf di Ka’bah, aku melihat seorang anak muda yang tak berdoa apapun selain hanya bershalawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka’bah, di Padang Arafah, di mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanayalah shalawat kepada Baginda Nabi SAW." Saat kesempatan yang tepat datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati, “Sahabatku, ada doa khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya, perkenankanlah aku mengajarimu.” Namun, dia berkata, “Aku tahu semuanya. Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti tindakanku yang aneh ini.” “Aku berasal dari Khurasan. Ketika para jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia. Dan aku mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT. Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi kepala keledai. Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain. Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur. Lalu, pintu tenda kami terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup wajahnya, dia berkata, “Alangkah tampak sedih engkau! Ada apakah gerangan?” Aku pun berkata, “Tuan, yang menimpaku memang bukan sukacita. Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.” Lalu orang asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri ketimbang wajah tuanya. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, “Siapakah Anda, wahai kekasih kebaikan?” Dia menjawab, “Aku Muhammad al Musthafa” (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul pilihanNya). Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di kakinya, menangis dan berkata, “Masya Allah, ada apa ini? Demi Allah, mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.” Kemudian dengan lembut beliau Saw berkata, “Ayahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, wajah tukang riba berubah menjadi wajah keledai, tetapi disini Allah Yang Maha Agung mengubah lagi wajah ayahmu. Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik. Setiap malam sebelum tidur, dia melafalkan shalawat seratus kali untukku. Saat diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk memberinya syafaat karena shalawatnya kepadaku. Setelah diizinkan, aku datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.” Sufyan menuturkan, “Anak muda itu berkata, “Sejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak berdoa selain shalawat kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya Shalawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.” Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, “Malaikat Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku. Jibril As. berkata, “Wahai Rasulullah, siapa yang membaca shalawat atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat menyambar.” Berkata pula Mikail As., “Mereka yang bershalawat atasmu akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.” Dan Israfil As. berkata pula, “Mereka yang bershalawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT mengampuni orang itu.” Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, ”Bagi mereka yang bershalawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.” Bagaimana kita tidak cinta kepada Rasulullah SAW? Sementara para malaikat memberikan jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bershalawat atas Rasulullah SAW.
semoga kita akan selalu senantiasa bersholawat dg memuliakan Kanjeng Nabi Muhammad SAW. amin
Komentar
Posting Komentar